Things To Do Before You Go to Japan

Jepang adalah negara yang saya idam-idamkan dari dulu dan termasuk kedalam bucket list. Banyak yang menarik perhatian saya, terutama Kyoto beserta tempat-tempat bersejarahnya. Tidak sedikit hal yang dapat dilakukan kalau berlibur ke Jepang, Tokyo Disney Sea & Disneyland, Universal Studios Japan di Osaka, Gunung Fuji, tempat belanja, dan tempat keren lainnya.

Kali ini saya liburan berlima dengan kedua adik laki-laki dan orangtua saya. Liburan lengkap berlima termasuk kedalam rare moment, karena kita benar-benar gak pernah lengkap kalau liburan apalagi liburan bareng Papa yang super sibuk. Nah, untuk perjalanan ini kita beda dari biasanya, kalau biasanya kita liburan pasti mengandalkan travel agent, tapi kali ini kita ngurus semua sendiri alias semua yang ngurus saya. Banyak hal yang memutuskan kenapa akhirnya kita memilih untuk mengurus semua keperluan sendiri. Yang pertama karena Papa sudah beberapa kali ke Jepang, jadi dia sedikit banyak tahu tentang negara ini, plus tempat-tempat yang harus dikunjungi. Selain itu Papa juga punya banyak teman di Jepang yang mungkin akan membantu kita selama disana, dan dia pengen santai pada trip kali ini makanya kita milih untuk urusin sendiri tanpa travel agent. Kedua, karena saya merasa saya mampu untuk ngurusin semua sendiri, dari tiket, akomodasi sampai disana pun semua saya yang atur, arahkan dan tentukan. Meskipun saya belum pernah ke Jepang sebelumnya, tapi saya merasa cukup paham dengan semua sistem disana, plus tanya sana-sini, baca artikel, blog dan semua yang berkaitan dengan travel to Japan. Jujur, waktu saya menentukan untuk mengatur dan memlilih semua yang saya pilih, saya agak khawatir. Khawatir dengan pilihan saya, misalnya akomodasi yang kurang cocok untuk keluarga, atau pilihan destinasi selama kami di Jepang. Tapi untungnya, semua berjalan lancar dan keluarga saya happy-happy aja dengan semua yang sudah saya rancang. Nah, kalau kamu punya rencana liburan ke Jepang (khusus untuk wisatawan Indonesia) ada beberapa hal yang harus kamu lakukan sebelum pergi ke Jepang.
1. Tiket Pesawat
Jepang bisa ditempuh dengan berbagai jenis maskapai, dari yang bertarif rendah sampai yang mahal. Untuk pillihan low cost carrier (maskapai dengan biaya rendah), tentu saja Air Asia terbaik. Selain harganya yang terjangkau, Air Asia X juga menjadi maskapai yang mendapatkan penghargaan selama beberapa tahun berturut-turut. Jadi jangan salah kaprah dengan low cost carrier, penerbangan dengan biaya rendah itu bukan karena pesawatnya yang jelek atau tidak aman, tapi mereka hanya tidak memberikan fasilitas lengkap saja didalam penerbangan. Contohnya bagasi yang harus kita beli terpisah, makanan dan minuman yang harus kita beli sendiri juga, tapi kalau mau makan selama penerbangan Air Asia, lebih hemat kalau pesan melalui website. Selain itu, ada beberapa fasilitas juga yang tidak disediakan Air Asia seperti hiburan selama penerbangan, tapi semua bisa dibeli kalau kamu mau dan sesuai dengan kebutuhan. Tapi secara keseluruhan sangat baik, pesawat yang dipakai juga sama seperti pesawat lain yang digunakan untuk perjalanan panjang (long flight) pada umumnya. Tiket Air Asia dari Jakarta (CGK) ke Jepang (Narita atau Haneda) berkisar antara Rp.5.000.000 sampai dengan Rp.8.000.000 pp (round-trip), kalau lagi ada promo harganya bisa lebih rendah dari harga diatas. Harga yang cukup rendah untuk ke Jepang biasanya pada saat musim dingin, Desember sampai dengan Februari, kamu bisa beli dari 3 sampai 4 bulan sebelum keberangkatan.

Untuk penerbangan langsung, bisa pakai Garuda Indonesia atau untuk pilihan lainnya bisa naik ANA (All Nippon Airways) atau JAL (Japan Airlines). Selain penerbangan langsung dari Jakarta, beberapa maskapai diatas juga bisa terbang langsung dari Bali. Harganya cukup mahal, tapi semua fasilitas terjamin, dan tentunya gak akan capek diperjalanan karena biasanya penerbangan langsung hanya memakan waktu sekitar 7 jam. Berbeda dengan penerbangan Air Asia yang harus transit di Kuala Lumpur dan total perjalanannya bisa sampai 10 sampai dengan 11 jam plus transit.

Sunset dari dalam pesawat saat penerbangan ke Narita.

Saran saya untuk memilih penerbangan, pilihlah sesuai dengan kebutuhan kamu. Selain itu, sesuaikan dengan budget dan perhitungkan dengan waktu yang kamu miliki. Menurut saya, memilih penerbangan antara tarif rendah ataupun tidak, tidak menjadi masalah karena kedua hal tersebut punya kelebihan dan kekurangannya. Yang terpenting dari semua harus enjoy your trip!

Welcome to Narita International Airport! 😀
2. Visa

Warga negara Indonesia diwajibkan untuk mengajukan visa bila ingin berkunjung ke Jepang. Setahun yang lalu pernah ramai di media sosial bahwa Jepang akan memberikan bebas visa untuk warga negara Indonesia. Faktanya, kabar ini bukan kabar yang salah juga, tapi perlu ditegaskan bahwa bebas visa hanya dapat berlaku untuk pemegang e-paspor Indonesia. Kalau kamu hanya punya paspor biasa, kamu belum bisa mendapatkan bebas visa untuk ke Jepang dan jalan lainnya kamu harus mengajukan visa. Ada banyak jenis visa yang dapat diajukan ke Kedutaan Besar Jepang. Kalau kamu hanya ingin berlibur, dapat menggunakan visa jenis Kunjungan Sementara untuk Tujuan Berwisata dengan Biaya Sendiri. Pengajuan visa Jepang dapat dilakukan sendiri langsung di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Tapi untuk kamu yang gak punya waktu dan tinggal diluar Jakarta, kamu bisa minta bantuan ke travel agent. Travel agent bisa membantu kamu untuk mengurusi semua keperluan visa sampai selesai. Ada banyak pilihan travel agent yang bisa kamu coba untuk membantu apply visa. Tapi tentunya jika kamu mengajukan visa Jepang melalui travel agent biayanya akan lebih mahal jika dibandingkan dengan kamu mengajukan sendiri. Harga yang ditawarkan travel agent untuk membantu mengurusi visa sampai selesai sekitar Rp.400.000 sampai dengan Rp.650.000 perorangnya. Lama pengurusan visa juga mempengaruhi biaya pembuatan, dan hampir setiap travel agent memiliki harga yang berbeda-beda. Nah, kalau mau mengajukan visa sendiri kamu hanya bayar sebesar Rp.330.000 saja dengan waktu pengerjaan sekitar 3 sampai dengan 5 hari.

Kalau saya dan keluarga kemarin mengajukan visa melalui salah satu travel agent ternama di Bandung. Ingat, jangan sembarangan untuk mengurus visa, kamu juga harus memilah mana travel agent yang jelas dan punya reputasi yang baik. Pengerjaan visa melalui travel agent sekitar 5-7 hari kerja dengan biaya Rp.525.000 perorangnya. Saya juga tidak perlu repot untuk pergi ke Jakarta, pihak travel juga membantu dalam mengelompokkan dokumen.

Selain menyiapkan biaya, kamu juga harus menyiapkan beberapa hal dibawah ini. Persyaratan ini juga berlaku untuk semua warga negara yang memilih visa wisata yang dibuat melalui travel agent ataupun individual :

1. Paspor yang masa berlakunya lebih dari 6 bulan sebelum kedatangan
2. Formulir permohonan visa yang dapat didownload disini, serta pas foto terbaru
3. Fotokopi KTP dan Kartu Pelajar (bila mahasiswa)
4. Bukti pemesanan tiket
5. Jadwal perjalanan atau itinerary selama di Jepang dapat dilihat juga disini
6. Surat sponsor
7. Fotokopi biaya perjalanan atau rekening koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir

Dari semua persyaratan diatas, yang perlu saya buat sendiri hanya surat sponsor. Surat sponsor bisa dibuat sendiri atau dibuat oleh yang bersangkutan yang mengatasnamakan perorangan (bisa Ayah) atau perusahaan yang dapat menjamin kita selama di Jepang.

Contoh surat sponsor yang saya buat untuk pengajuan visa Jepang.
Untuk semua informasi lengkap mengenai pengajuan dan syarat untuk visa Jepang, silakan kunjungi website Kedutaan Besar Jepang di Indonesia
3. Akomodasi

Jepang dikenal sebagai negara dengan living cost yang tinggi. Sejujurnya, kalau bisa mengakali berbagai cara, perjalanan ke Jepang juga masih bisa sedikit ditekan dan bisa cukup berhemat. Kamu bisa lihat beberapa referensi untuk membooking akomodasi di Travel Resources yang saya tulis sebelumnya. Untuk kali ini saya pertama kalinya mencoba menggunakan Holidaylettings dari Tripadvisor sebagai tempat tinggal saya selama di Jepang. Sebenarnya Holidaylettings hampir sama dengan Airbnb, menyewakan satu rumah atau villa atau apartment, tapi dengan harga yang lebih murah dibanding Airbnb. Menurut saya menyewa apartment cukup menguntungkan dibanding jenis akomodasi yang saya pertimbangkan sebelumnya untuk di Jepang. Karena saya traveling berlima dengan keluarga saya, hotel bukan menjadi pilihan utama karena mau gak mau kita harus pisah kamar dan memakan biaya yang lebih besar. Saya juga sempat kepikiran untuk menginap di hostel karena katanya hostel di Jepang unik dan keren-keren, tapi pilihan itu sama sekali tidak masuk akal untuk perjalanan keluarga ini. Yang terakhir adalah apartment. Saya sangat excited karena apartment yang saya sewa di Jepang lokasinya sangat starategis dan dapat fasilitas yang cukup lengkap. Selama 4 malam di Tokyo, saya dan keluarga menginap di kawasan Shibuya. Saya hanya tinggal jalan kaki tidak lebih dari 1 kilometer untuk sampai ke Stasiun Hachiko. Keluar dari apartment pun dikanan kiri saya banyak cafe-cafe keren dan minimart bahkan ada yang buka sampai 24 jam. Meskipun penginapan di Tokyo tidak begitu sesuai ekspektasi saya, tapi secara keseluruhan baik dan yang paling penting strategis. Sayangnya pada 2 malam terakhir sebelum check out, semua air panas untuk mandi mati, dan di Tokyo saat itu sedang bersuhu sekitar 4 derajat celcius, alhasil saya dan keluarga gak mandi karena super dingin, pun kalau mau cuci muka dan sikat gigi, kami harus masak air dahulu supaya hangat.

Untuk harga, sebenarnya tidak mahal bagi ukuran apartment yang letaknya di Shibuya. Hanya sekitar Rp.1.300.000 (dibooking pada November 2015 dengan kurs Rp.117) permalamnya, untuk 5 orang dan satu buah apartment plus fasilitasnya. Meskipun kasur benerannya cuma ada 1, tapi host apartment saya juga menambahkan 3 kasur lengkap dengan peralatan tidurnya. Perlu diketahui, kalau kamu memakai Holidaylettings atau Airbnb, biaya akan dihitung dengan banyaknya orang yang menginap. Kalau yang menginap 6 orang, biayanya tentu beda dengan yang menginap 3 orang meskipun dalam satu rumah atau apartment yang sama. Plus ada biaya tambahan lain biasanya biaya kebersihan atau cleaning fee. Oh ya, Jepang strict banget dengan kebersihan. Semua tamu wajib disiplin terhadap kebersihan dan sampah. Saya juga dikasih tau oleh host saya, dimana tempat pembuangan sampah dan harus milih sampah yang akan dibuang. Hati-hati kalau bandel, karena for sure Jepang gak main-main dengan kebersihan dan sampah. Oh ya, kelebihan dari menyewa apartment dan semacamnya (via Holidaylettings ataupun Airbnb), kita bisa dipinjamkan portable wi-fi yang bisa dibawa kemana-mana loh. Portable wi-fi ini sama seperti Bolt yang ada di Indonesia, bisa digunakan oleh lebih dari 3 orang.

Ini foto dari luar apartment saya di daerah Shibuya. Meskipun kelihatannya biasa banget, tapi dalamnya cukup oke dan bersih. Btw, kamar saya yang atas diujung sebelah kiri 😀

Kalau foto ini diambil dari kasur utama, ukurannya tidak begitu besar dan memang rata-rata space seperti rumah, apartment ataupun hotel di Jepang jarang yang besar. Disebelah kiri bisa menyimpan koper dan barang-barang lainnya. Dapurnya juga kecil banget, tapi lengkap ada kulkas, microwave dan panggangan roti. Dan yang paling kecil adalah kamar mandinya, pertama kali sampai dan masuk saya buka kamar mandi lalu menemukan kecoa! Hahaha

Ini suasana persis di area tempat saya tinggal. Banyak banget cafe-cafe dan restoran kecil yang berjejer dijalanan ini. Jalanan ini ramai banget setiap pulang kerja ataupun pada saat weekend.

4. Transportasi selama di Jepang

Jepang juga dikenal sebagai pelopor transportasi umum terbaik dan berteknologi canggih. Hal itupun kerap diketahui oleh wisatawan yang datang ke Jepang, karena hampir sebagian wisatawan menggunakan kereta sebagai transportasinya selama berlibur di Jepang. 10 hari di Jepang cukup lama bagi saya, hal yang paling menyita biaya adalah transportasi karena kemana-mana saya harus menggunakan kereta. Banyak yang bilang sebelum saya pergi ke Jepang kalau transportasi umum di Jepang khususnya kereta sangat susah untuk dimengerti, katanya pusing banget arah dan jenis keretanya juga banyak. Awalnya saya memang merasakan kesulitan itu, lama-lama gak susah juga kok. Kamu pernah coba pakai MRT di Singapura? Nah, sistemnya hampir sama seperti itu. Kalau di Singapura, sebelum kita naik kereta, kita harus menentukan arah tujuan lalu bayar. Kalau di Jepang, kita juga harus lihat  dan cari tujuan kita lalu bayar dengan harga yang tertera didinding tersebut menggunakan alat seperti komputer. Semua arah dan harga terpampang jelas disetiap stasiun menggunakan bahasa Inggris dan juga bahasa Jepang. Kalau mau lebih mudah, kamu bisa membeli kartu SUICA, sama halnya dengan kartu MRT di Singapura yang kalau habis bisa kita isi ulang atau charge. Biasanya saya charge 1000 yen, untuk sehari sampai dua hari penggunaan kereta didalam kota. Kartu SUICA sangat memudahkan, karena saya tidak perlu cari dan memilih-milih kereta jenis apa, saya hanya harus tahu kemana arah untuk naik kereta dan tinggal tap kartu disetiap masuk stasiun dan keluar dari stasiun.

Keuntungan dari SUICA menurut saya hanya memudahkan penggunaan saja, namun tidak mengurangi beban biaya disetiap naik kereta, karena kalau harga sebetulnya sama saja. Namun berbeda dengan JR Pass yang sangat diminati oleh kebanyakan wisatawan yang datang ke Jepang. Kartu sakti ini hanya bisa dibeli diluar Jepang dan hanya bisa digunakan oleh wisatawan. Kalau di Indonesia, kamu bisa cari di internet, ada beberapa perusahaan yang menjual JR Pass secara online.

JR Pass ini dapat digunakan sesuka kamu, tapi tentu ada batas waktunya. Yang paling singkat, JR Pass dapat berlaku selama 7 hari, 14 hari dan 21 hari. Dengan harga yang berbeda, kalau kamu plih yang 7 hari harganya 29,110 yen atau sekitar Rp.3.400.000 (kurs Rp.119). Kartu ini sangat membantu kamu jika ingin berkeliling Jepang, biasanya wisatawan memanfaatkan JR Pass untuk pergi antar prefektur, sebagai contoh kemarin saya ke Osaka naik Shinkansen dari Tokyo harus membayar sekitar 14.450 yen atau sekitar Rp.1,700,000 one way, bisa dijumlahkan kalau kamu pulang – pergi tidak menggunakan JR Pass sudah Rp.3,400,000 sendiri untuk Tokyo – Osaka PP. Tapi, kalau pakai JR Pass kamu tidak perlu bayar lagi, kamu juga bebas mau pulang – pergi Tokyo – Osaka berapa kali yang penting tetap pakai JR Pass yang kamu beli untuk 7 hari itu. Secara singkat, kurang lebih seperti itu tentang JR Pass, tapi sayangnya saya sendiri gak pakai JR Pass jadi kurang mengerti dengan sistem aslinya, kamu bisa kunjungi website Kanpai Japan untuk mengetahui tentang kelebihan ataupun kekurangan dari penggunaan JR Pass.

Balik lagi ke pembahasan tentang penggunaan kereta di Jepang. Kalau tadi saya beri tahu mengenai cara membeli tiket untuk naik kereta. Lalu sesudah beli dan masuk ke kawasan stasiun, kamu harus cari kereta apa yang akan kamu gunakan untuk mencapai tujuan. Ada banyak jenis kereta, dan cara satu-satunya supaya gampang dan tidak tersesat, kamu harus tahu mau kemana dan naik kereta apa sebelum kamu sampai di stasiun. Biasanya saya suka cari kereta, harga dan arahnya di www.hyperdia.com/en, website ini benar-benar sakti dan membantu karena semua arah, harga dan tujuan tertera lengkap disana, kamu juga bisa download applikasinya di Android untuk memudahkan. Kalaupun arah masuk gate keretanya susah ditemukan, kamu bisa nanya ke petugas yang ada distasiun, semua orang disana sangat welcome dan sebagian dari mereka mengerti bahasa Inggris, meskipun kadang terbata-bata. Oh ya, jangan lupa juga dengan pintu keluar di stasiun. Hal itu pun kadang bikin pusing karena banyak banget pintu keluar di setiap stasiun, mending jangan malu bertanya ke petugas dari pada sesat dijalan 😀

Harga tiket pesawat dan penginapan paling mahal di Jepang adalah pada saat musim semi atau musim Sakura. Karena itu adalah musim yang sangat dinantikan oleh para wisatawan untuk memburu Sakura di negara aslinya tersebut. Biasanya Sakura mulai muncul dari bulan Maret sampai April, untuk tahun 2016 ini tepatnya akan muncul sekitar 25 Maret dan tanggal terbaiknya sekitar awal April kalau di Tokyo. Sakura bisa dilihat dibeberapa taman yang ada di Jepang, kalau di Tokyo biasanya di Ueno Park atau Yoyogi Park. Kalau bulan-bulan libur anak sekolah di Jepang sekitar bulan Juli sampai dengan September (summer vacation). Biasanya  pada bulan-bulan tersebut kereta antar kota bisa sangat penuh, juga banyak tempat-tempat wisata dipenuhi oleh wisatawan lokal.

Related Posts

0 Response
  1. Kalau suka komik dan sejenisnya memang harus banget ke Jepang Kak hehe banyak tempat yang seru untuk nyari-nyari anime.

    Enak banget liburan bareng keluarga lengkap, soalnya jarang banget hehe. Betul, agak nyesek cuma gak apa-apa dibawa santai aja 😀

  2. Wah, sama! Aku pun juga pengen ke Jepang karena dari kecil udah doyan sama komik, anime, sampai musik Jpop. Enaknya bisa liburan ke Jepang bersama seluruh keluarga 🙂

    Yang nyesek itu kalau kita udah susah payah ngurus semua, bikin itinerary, terus travelmate cuma bisa komplen. Kalau keluarga komplen sih gpp ya, karena kita memang ada untuk melayani mereka. Untungnya keluarga kamu easy going juga kayaknya 😀

    thetravelearn(dot)com

Leave a Reply