Travelmate : GIGA #UltimateTravelmate

Pertama kali mulai sering jalan-jalan itu pas masa-masa kuliah. Orangtua sudah mulai memberikan sedikit lampu hijau untuk saya pergi jalan-jalan tanpa awasan dari keluarga. Pun saya sudah sedikit membuka pikiran untuk berani keluar dari zona nyaman dan mulai mengenal dunia luar. Perjalanan ‘sendiri’ pertama kali saya adalah ke Ho Chi Minh City untuk pertukaran pelajar. Perjalanan ini juga dimulai untuk pertama kalinya dengan travelmate saya yang sekaligus jadi pacar saya, Giga.

Sedikit cerita tentang Giga, dia adalah teman kampus saya sebelumnya. Jauh sebelum kita kenal, dia juga suka jalan-jalan, bedanya kalau saya sukanya mendatangi tempat yang ikonik, kalau dia sukanya hunting makanan. Dia sangat berani untuk coba berbagai makanan yang ada ditempat-tempat yang kita singgahi, gak cuma suka makan, dia juga jago masak loh. Giga adalah travelmate saya yang paling bisa dan gampang diajak ngapa-ngapain. Saya sangat berhati-hati dan selalu selektif untuk milih teman pada saat traveling. Bukannya saya gak bisa nerima orang atau picky, tapi secara gak langsung partner traveling itu mempengaruhi ke semua hal pada saat traveling. Yang paling penting pada saat traveling itu adalah nikmati suasana dan kurangi mengeluh, karena menurut saya dua hal tersebut bisa menjadi sumber kebetean sepanjang perjalanan. Giga itu sudah dikenal sebagai orang yang sangat easy going dan jarang banget ribet, setiap menentukan keputusan kita runding berdua dan dipikir matang-matang biar gak merugikan salah satu pihak. Kita juga kerjasama dalam menjaga perasaan dan mood satu sama lain. Dia orangnya dewasa, otaknya itu tajam banget dalam berbagai hal. Yang saya salut dari dia, disetiap menentukan keputusan bukan mikir hanya untuk detik ini saja, tapi untuk jauh kedepannya yang kadang-kadang gak pernah saya pikir sebelumnya. Dia juga yang merubah saya untuk tidak pasif dengan orang-orang baru. Dulu, saya orangnya gak bisa basa-basi dan agak kaku kalau ketemu orang, apalagi orang baru. Tapi karena dia ramah dan suka ngobrol sama orang saya juga jadi belajar dan ketularan. Eh sekarang saya bisa lebih banyak ngobrol dan berani kenal sama orang baru.

Vietnam, Desember 2012.

 

Sejujurnya, travelmate untuk saya sangat penting. Saya bisa dibilang sangat jarang melakukan perjalanan sendiri atau solo traveling. Banyak hal yang membuat saya selalu berpikir enggan untuk melakukan solo traveling. Tapi jangan salah juga, jalan berdua itu banyak suka dan dukanya, maklum dua kepala dijadikan satu pasti ada hal yang membuat kita beda. Meskipun kita punya satu tujuan (destinasi), tapi ada beberapa hal yang membuat kita berbeda pendapat. Contohnya transportasi, kalau lagi mood saya bisa kuat jalan kaki kemana-mana, tapi sebaliknya untuk dia. Atau dalam hal memilih makanan, saya suka banget dengan makanan A, tapi dia sukanya dengan makanan B. Hal tersebut juga sering terjadi pada saat kita traveling. Contohnya, pernah di Bali kami pisah tempat untuk makan sendiri-sendiri karena saya gak mau makan makanan dia dan dia juga gak mau makan makanan saya. Terus waktu di Vietnam, saya merasa sudah sangat bosan dengan makanan yang itu-itu aja, kali ini saya lagi ingin sekali makan Ayam KFC, tapi Giga benar-benar menolak dan maunya makan Pho. Alhasil, saya rela menahan lapar dan nungguin dia makan Pho, setelah itu dia yang gantian nungguin saya makan KFC. Tapi ada lagi yang dulu selalu bikin ribut kalau jalan berdua. Ketika saya ingin bawa semua baju dan barang-barang saya pas traveling, dan Giga selalu marah kalau saya bawa banyak gembolan. Hal ini selalu kejadian sampai beberapa kali kita traveling, saya juga tetap ngotot bawa barang bawaan saya karena saya pikir semua barang yang saya bawa itu adalah kebutuhan saya. Saya juga orangnya well-prepared, saya gak akan bisa beli barang-barang kebutuhan saya mendadak. Berbeda dengan dia yang setiap jalan-jalan jarang banget bawa toilitries dan akhirnya dia minta ke saya atau dia beli di Mini Market. Atau ketika dia kehabisan stok baju, dia bisa pakai baju itu sampai 2-3 kali plus dipakai untuk tidur. Itu semua gak berlaku untuk diri saya, karena saya bukan orang yang spontan, dan hal seperti itu yang menjadikan kita berbeda. Hal-hal seperti diatas sekarang sudah kita jadikan sebagai hal yang biasa. Meskipun awal-awal traveling kita kadang kaget dengan perbedaan dari masing-masing orang, tapi sekarang kita lebih menyederhanakan dan dibawa santai saja, semua bisa dilakukan bersama asal sabar dan mau saling mengerti.
Ini adalah makanan bersejarah, karena kita makan ini berdua. Jangan ketipu dengan foto karena aslinya cuma sedikit, dan kita juga cari makanan ini kelabakan karena kita cari makanan disetiap restoran yang paling murah dan bertemulah kita dengan Nasi Ayam Sop ini haha. Kebetulan pas sampai di Kamboja waktu itu sudah sore menjelang malam. Sayangnya uang kita pas-pasan banget dan harus ngirit untuk perjalanan kita selanjutnya yang masih lama di Vietnam. Jadi untuk makan malam di hari itu kita menyatukan uang kita untuk beli makan satu piring berdua, meskipun gak begitu kenyang tapi seru :)).
Masih di Kamboja, makan malam kemarin kita cuma makan Nasi Ayam dan sepiring berdua pula. Malam ini kita cari makanan satu piring (lagi) tapi yang bikin kenyang dan porsinya lumayan banyak. Akhirnya kita menyusuri sungai di tengah Kota Kamboja, disana banyak cafe-cafe berjejeran menawarkan Pizza. Wah, kebetulan banget dengan niat kita yang cari makan sepiring berdua tapi dengan porsi yang lebih banyak. Akhirnya setelah milih-milih kita pesan juga Pizza Margarita biasa. Pas Pizzanya datang ke meja, agak sedikit aneh dengan gumpalan sayur hijau diatas keju, karena kita sudah lapar dan gak peduli itu sayur apaan akhirnya kita lahap banget makannya. Tapi kalau saya makan Pizza memang gak bisa lebih dari 2 atau maksimal bisa makan 3 slice kalau sedang super lapar, itupun pasti saya kesampingkan sedikit sayur-sayurannya. Jadi sisa sayurnya Giga lah yang melahap sampai habis. Selesai dari restoran itu, kita jalan-jalan lagi dan cari cafe untuk makan dessert, letaknya juga gak jauh dari restoran yang tadi. Lama-lama kok saya lihat Giga mulai aneh kelakuannya, dia sampai tidur di cafe tersebut, saya juga lama-lama merasa pusing dan kepala mutar-mutar kayak lagi naik Jet Coaster haha. Akhirnya kita memutuskkan kembali ke Hotel karena malam ini kita harus kembali lagi ke Ho Chi Minh pakai bus malam. Setelah sampai hotel otak dan pikiran makin aneh dan gak bisa dikontrol, Giga juga merasakan hal yang sama. Dan yang terparah kita sampai ketinggal bus untuk pulang ke Vietnam. Besoknya setelah sadar, saya dan Giga baca-baca di Google, dan ternyata kita makan Happy Pizza yang sangat terkenal di Kamboja itu. Kenapa terkenal, karena semua Pizza yang dijual dicampur dengan Marijuana! Bodohnya kita 🙁 hahaha. Untung kita bisa pulang ke Vietnam besok paginya, hal ini berkat si pegawai hotel yang mungkin dari semalam sudah ketawa-ketawa lihat kelakuan aneh kita. Dia ngasih tau ke petugas busnya kalau saya dan Giga akan pulang besok pagi dan gak bisa pulang malam itu. Dia juga cerita ke kita bahwa ini bukan kali pertama si petugas melihat tamu hotelnya kayak kita setelah makan Pizza itu, LOL.
Giga tidur pulas di Cafe setelah makan Happy Pizza, hahaha.
Pertama kalinya kita menginap di hostel (ABC Hostel, Singapura, Februari 2013). Agak kaget dengan suasananya, tapi super seru karena akhirnya kita bisa merasakan tidur bareng dengan orang-orang asing didalam kamar yang sama, meskipun malamnya dengar orang mendekur haha. Setelah menginap disini, kita juga mencoba beberapa hostel lainnya, kebanyakan di Singapura karena banyak hostel yang bentuk dan desainnya seru dan unik.
Kita sudah pernah beberapa kali datang ke Singapura dan juga beberapa kali melakukan perjalanan darat dari Singapura ke Malaysia ataupun sebaliknya. Saat itu (Oktober 2014), kita melakukan trip sama yang sebelumnya pernah dilakukan yaitu ke Melaka melalui Kuala Lumpur, dan pulangnya lewat jalur darat ke Singapura. Perjalanan ke Kuala Lumpur dan Melaka terasa baik-baik saja, sampai akhirnya kita berada di perbatasan Malaysia – Singapura yang mengharuskan kita turun dari bus dan masuk ke imigrasi di Singapura. Saya dan Giga masuk ke imigrasi bersebelahan, biar selesai di cap paspor berbarengan dan kita bisa cepat-cepat melanjutkan perjalanan ke pusat kota Singapura, karena kita hanya diberikan waktu selama 30 menit oleh petugas bus dan akan ditinggalkan jika melebihi waktu tersebut. Saya lolos di cap imigrasi, tapi saya lihat Giga kok lama sekali, dia juga ditanya-tanya lebih detail oleh pihak petugasnya. Sampai akhirnya saya dipersilakan keluar gedung imigrasi oleh petugas, dan Giga pun masih berdiri di konter imigrasi dan sedang di interogasi oleh dua orang petugas. Saya cukup lama menunggu diluar gedung, sudah sedikit was-was, takutnya ada sesuatu yang bikin Giga harus ditahan imigrasi. Akhirnya saya nunggu diluar sekitar 45 menit, itupun perasaan saya sudah tidak karuan. Saya juga nanya ke setiap orang yang keluar dari gedung, terlebih ke orang-orang yang saya lihat di bus yang sama-sama kami tumpangi dari Malaysia. Akhirnya setelah 45 menit berselang, tidak lama Giga keluar dari gedung imigrasi. Saya mau nangis karena takut tapi campur senang juga karena dia sudah ada bersama saya. Dia cerita kalau dia sempat dibawa masuk ke ruangan khusus dan dikumpulkan dengan beberapa orang yang sedang diinterogasi dan orang-orang yang masuk Singapura secara ilegal. Katanya Giga di curigai mau kerja ilegal di Singapura, karena dia sudah beberapa kali datang lewat jalur darat ke Singapura. Tapi syukurnya kita datang kesini bukan untuk itu, jadi kita selamat dan dia bisa meyakinkan para petugas imigrasi untuk hal itu. Selesai dari situ, kita baru ingat kalau bus yang kita tumpangi tidak ada. Awalnya agak panik ditinggal bus, tapi baru kepikiran bahwa bus akan meninggalkan penumpang kalau lebih dari 30 menit. Akhirnya kita pakai MRT untuk mencapai ke pusat kota meskipun stasiun berhentinya banyak banget dan memakan waktu lama lalu biaya yang dikeluarkan pun sedikit bertambah.
Sepedahan di Candi Prambanan yang waktu itu cuacanya lagi super panas menyengat, sampai-sampai pulang dari sana kulit kita langsung gosong.
Pertama kalinya saya dan Giga ke kawasan Gunung Bromo. Dan ini juga pertama kalinya Giga ngajak saya keliling-keliling Malang untuk melihat rumah keluarga besarnya dan gak lupa ngajak saya makan-makanan sini. Btw, selama saya liburan dan wisata kuliner sama dia di Malang, berat saya naik sampai 5 kilo 🙁 haha
Kita itu punya banyak cerita tentang Bali. Dari pertama kali kita liburan bareng sampai detik ini Giga udah pindah ke Bali banyak banget hal yang kita jalanin disana. Dari dia yang jadi guide saya karena saya masih buta tentang Bali, sampai sekarang isi di blog saya mostly tentang Bali dan saya yang jadi guide buat dia. Dari yang dulu saya datang ke Bali cuma 5 sampai seminggu aja, sekarang saya bisa sebulan lebih stay di Bali dan gak cuma untuk liburan aja. Dulu kalau ke Bali saya masih turis banget, bukan karena saya datang ke tempat-tempat yang banyak turisnya, tapi kelakuan dan komunikasi saya masih seperti kebanyakan turis yang datang ke Bali, tapi beda dengan sekarang kalau saya kesana, saya lebih banyak kenal dengan orang lokal dan mau berbaur layaknya warga lokal. Mungkin empat tahun kebelakang ini, saya dan Giga banyak habiskan jalan-jalan di Bali. Hampir setahun tiga kali saya dan Giga bisa datang ke Bali. Tapi beda dengan sekarang, dia sudah menetap di Bali dengan keluarganya dan dapat kerja di Bali. Saya yang di Bandung bisa sesuka hati berkunjung ke kesana, bukan hanya berkunjung tapi sekalian berlibur. Banyak cara yang kita lakukan untuk liburan ke Bali. Dulu jaman kuliah, kita sering bolos untuk bela-belain liburan ke Bali dengan jangka waktu yang lama. Dan puncaknya karena kita cinta banget dengan pulau ini, kita berdua mengangkat tema dan judul skripsi tentang pariwisata Bali. Tentunya hal ini juga menjadi penyemangat kita bikin skripsi karena kita harus stay di Bali selama sebulan :D. Gak cuma disitu, Giga juga punya travel agent yang bergerak di bali dan khusus melayani wisatawan untuk datang ke Bali. Dan bisnis saya adalah menjual wooden tableware asli dan dikirim langsung dari Bali, alasannya simple, karena saya juga ingin sering datang ke Bali untuk merawat bisnis saya dan menjadi salah satu bentuk kecintaan saya kepada pulau ini untuk menyebarkan karya asli Bali ke seluruh customer saya.
Juni 2012, ini pertama kalinya saya dan Giga liburan bareng ke Bali. Foto ini diambil di sebuah Pura di kawasan Seminyak. Ini juga pertama kalinya kita jalan kaki yang menyita waktu dan cukup jauh dari Legian – Kuta ke Seminyak, menyusuri pantai dan pinggiran Jalan Seminyak pagi-pagi.
Foto ini diambil di Klapa, Pecatu. Waktu itu kita lagi kerja berdua karena ada rombongan grup dari Surabaya yang pakai travelnya Giga. Ini juga menjadi terakhir kalinya saya ke Bali dipenghujung tahun 2015 (Desember). Trip yang saya jalani kurang lebih sebulan ini juga gak seperti biasanya seperti saya ke Bali untuk berlibur, tapi saya juga harus kerja untuk review beberapa hotel di Bali yang bekerjasama dengan saya. Semakin kesini, datang ke Bali semakin berasa seru. Bukan karena banyak tempat baru yang kita datangi saja, tapi karena aktifitas yang kita lakukan tidak melulu tentang liburan dan menghabiskan uang.
Jadi, dialah travelmate yang super setia dan paling mengerti saya. Gak ada orang seasik Giga kalau diajak jalan-jalan, selain asik dia juga tanggung jawab dalam hal apapun yang saya lakukan selama melakukan perjalanan, seperti menjaga kesehatan dan makanan yang saya makan. Dari dulu sampai sekarang, kita masih suka jalan-jalan dan melakukan hal yang sama saat traveling. Saya jadi ketularan doyan makan kayak dia, dia juga jadi ketularan suka belanja kayak saya. Makin lama, kita jalan-jalan juga makin bertanggung jawab, beda seperti kita saat masih umur belasan tahun. Kita juga sekarang makin peduli dengan lingkungan dan tempat yang kita datangi, semakin bisa menghargai dan menerima berbagai macam orang dari latar yang berbeda. Yang paling penting pikiran kita juga selalu lebih terbuka karena traveling.
Tanggal 14 ini, saya dan teman-teman lainnya dari Travel Bloggers Indonesia sama-sama menulis tentang “Travelmate“. Kalau mau lihat cerita lainnya, klik dibawah ini :
0 Response
  1. Kak Puspa, ini kisah yg so sweet, bisa bikin baper, hahaha!

    Btw waktu di Bali kami juga pernah order omelete with mushroom, trus sesudah makan kami semua langsung hahaha hihihi gak jelas sampe perut kram, padahal yang diobrolin biasa aja tapi kok kami semua merasa super happy!

    Besokannya mulai curiga, jangan2 yang dimasukin di omelete itu 'mushroom' yg ilegal, hahaha 😀

  2. Hahaha Aamiin, makasih Kakak *salahfokusjuga*

    Betuuul, bersyukur punya teman yang easy going. Soalnya jadi sama-sama gak ngerepotin ya Kak. Dan setuju banget, apalagi pas baru pertama ke tempat baru, kalo temen kita rebek kan kita jadi bingung juga soalnya kita juga sama2 pertama kali ketempat itu haha. Good luck Kak, semoga dapet ya travelmate yang cocok 😀

  3. Jesus Christ, ternyata kak Puspa cantik banget yaaa. *salahfokus* *lalu dikepruk Giga*

    Asyik deh kalau punya pacar yang juga suka jalan dan easy going. Semoga langgeng sampai mengikat janji suci ya 😀
    Dan bener banget, travelmate yang doyan mengeluh itu nggak banget deh. Capek dikit, ngeluh. Nyasar dikit, ngeluh. Lhah kita kan baru pertama ke tempat yang baru, what do you expect?! Gue pernah mengalami dan nggak mau kejadian lagi, jadi kalau gue mau open recruitment, gue bakal tanya secara gamblang soal karakter dia, hehe..

    thetravelearn(dot)com

  4. enak ya kak, halan-halan sambil pacalan hehe. waktu solo traveling di siem reap, sempat ditawari mampir ke resto yang jual happy pizza, jelas aja langsung aku tolak haha, bisa-bisa wasalam tripnya.

  5. Ya ampun seru banget pengalaman ga sengaja makan "happy pizza" 😀
    Seneng deh baca tulisan ini; pasangan yang dari awal sering traveling bareng, stays together through ups and downs. Semoga langgeng ya, Puspa & Giga..

    Sukses juga untuk bisnis wooden tableware-nya!

Leave a Reply